Perkembangan kasus pelanggaran etik komunikasi digital yang menyeret salah satu figur penyiaran dua dimensi kini telah menemui titik terang. YouTuber Virtual independen Souta secara resmi menerbitkan nota klarifikasi dan permohonan maaf publik, sekaligus membenarkan keabsahan arsip percakapan pribadi digital miliknya bersama seorang penonton di bawah umur yang sebelumnya dibongkar di media sosial. Kronologi Riwayat Pesan Digital yang Terbongkar
Persoalan ini pertama kali mencuat setelah akun X @nnxthaniell mengunggah rangkaian utas berisi investigasi mandiri atas izin dari pihak yang bersangkutan. Berdasarkan data yang dihimpun, interaksi awal kedua belah pihak terjadi pasca-kegiatan raid stream pada periode bulan puasa di tahun 2023. Komunikasi tersebut berlanjut intensif setiap hari melalui pesan pribadi Instagram setelah Souta mulai merespons konten suntingan buatan korban. Dalam rangkaian bukti yang dipublikasikan, Souta terbukti memberikan pola interaksi fanservice yang keluar dari batasan profesional kreator dan penggemar, berupa kiriman pesan bernada rayuan romantis (boyfriend roleplay).
Fakta yang memicu kritik tajam dari publik adalah adanya upaya pengiriman pesan teks berisi ajakan fisik seperti m*ndi bersama dan permintaan k!ss. Tindakan tersebut terbukti tetap mengalir meskipun korban secara eksplisit telah mencantumkan label informasi minor pada biografi profilnya, serta baru menginjak rentang usia 12 hingga 13 tahun saat rentang peristiwa itu terjadi. Pengakuan Resmi dan Nota Penyesalan SoutaSetelah bukti-bukti digital tersebut memicu polemik luas di ruang siber, Souta akhirnya merilis surat pernyataan resmi melalui akun pribadinya @xSouta_. Dalam nota maklumat tersebut, Souta secara terbuka mengakui keabsahan materi tangkapan layar yang beredar serta membenarkan bahwa tindakan komunikasinya di masa lalu merupakan sebuah kesalahan fatal yang tidak pantas dilakukan.

Souta memberikan penjelasan bahwa pada saat rentang waktu percakapan terjadi, dirinya tidak mengetahui secara pasti status hukum usia lawan bicaranya yang ternyata masih berada di bawah umur. Ia mengaku baru menyadari hal tersebut setelah persoalan ini diangkat oleh komunitas siber ke ruang publik. Kendati demikian, Souta menegaskan dalam rilisnya bahwa faktor ketidaktahuannya tidak akan dijadikan alasan untuk melepaskan tanggung jawab atas dampak psikologis yang dialami korban. Souta mengonfirmasi telah mengambil langkah mediasi pribadi dengan menyampaikan permohonan maaf langsung melalui pesan privat kepada korban. Selain itu, ia juga meminta maaf kepada komunitas Soutachi, Eonites, serta rekan kerja di agensi EOS, dan menyatakan siap menanggung segala bentuk konsekuensi moral maupun sosial dari kesalahannya tersebut.


